Diskriminasi Gender dalam Komunikasi Verbal Keluarga

gender
gender

Women, Madilog.id – Belum lama ini, kembali saya mendapatkan curhat seorang wanita melalui pesan aplikasi “Messenger”. Di usia pernikahannya yang baru 1,5 tahun, sudah mulai mendapatkan diskriminasi dari mertuanya akibat belum juga memiliki momongan. Mertua dan menantu perempuan hidup dalam 1 rumah dan menantunya diperlakukan tidak baik hanya karena belum memiliki keturunan.

Singkat cerita, anak & menantunya memilih pisah rumah dan hidup mandiri dengan membuka usaha kecil-kecilan.
Menurut pengakuan korban, ia sering ditanyakan oleh ibu mertua “nanti hartamu untuk siapa jika tidak punya anak?”

Sungguh sangat ironis!!!
Bentuk-bentuk diskriminasi gender pada perempuan selama ini, terjadi bukan saja dilakukan oleh kaum laki-laki, namun sesama perempuan itu sendiri saling menyakiti dan mendiskriminasi.

Sebagai seorang perempuan, saya melihatnya begitu menyayat hati. Apakah ibu-ibu yang juga pernah jadi menantu tidak memiliki sedikit perasaan cinta kasih, pengertian dan rasa empati pada menantu perempuannya.

Selama ini saya menolak segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Akan tetapi jika pelakunya adalah sesama perempuan juga, bukankah hal ini begitu miris dan menyakitkan hati ?

Perempuan kodratnya adalah, Hamil, Melahirkan & Menyusui. Karena ke-tiga hal ini tidak dapat dilakukan oleh laki-laki. Akan tetapi, jika belum juga dikaruniai anak mungkinkah faktornya ada pada istri/wanita?

Masih ingat artis-artis tanah air yang menikah cukup lama namun belum juga dikaruniai anak. Katakan salah satunya “Paramitha Rusadi, Tata Janeeta” dan masih banyak artis lainnya. Begitu cerai pada pasangannya lalu menikah dengan pria lain, justru langsung hamil dan memiliki anak. Masih kah kita berkata atau menuduh dan menghakimi bahwa penyebab tidak hadirnya seorang anak dalam keluarga adalah wanita? Dimana bentuk keadilan dan rasa empati seorang ibu mertua yang juga adalah perempuan yang pernah jadi seorang menantu, lalu hamil, melahirkan, dan menyusui terhadap menantunya perempuan?

Perempuan begitu dipandang sangat hina, seakan-akan perempuan hanyalah objek kepentingan kaum pria. Menantu perempuan hanyalah budak, dimana segala sesuatunya dikendalikan oleh pria atau suami. Perempuan tidak dibutuhkan pendapatnya, sarannya dan tidak berhak menentukan jalan hidupnya. Dimana keadilan Tuhan atas hak setiap orang beriman dan percaya kepada-Nya? Bukankah baik pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk masuk kedalam Kerajaan Allah tanpa membeda-bedakan derajat dan jenis kelamin?

Saya ingin menanggapi atau menjawab pertanyaan yang sering terlontar dari mulut orang sekitar salah satunya ibu mertua sahabat saya diatas “Nanti hartanya untuk siapa bila belum punya anak?”.

Sebenarnya saya pernah membahas hal ini pada postingan saya sebelumnya yang bisa di baca melalui album foto “My diary” facebook Akhirmawati Zendrato. Akan tetapi saya kembali mengingatkannya melihat akhir-akhir ini begitu banyak curhat sesama wanita yang merasa terdiskriminasi dan terdzolimi oleh sikap orang lain.

Pertama, yang perlu diketahui bahwa tujuan menikah dan bersatu pada laki-laki pilihan untuk dijadikan suami adalah “Membangun sebuah hubungan yang harmonis berdasarkan cinta kasih dari Tuhan dan diwujudkan melalui cinta kasih pada sesama”. Kalau Tuhan menitipkan anak, itu adalah Anugerah. Anak bukan lah investasi dimana kelak jika sudah dewasa akan jadi mesin pencari uang dan akan merawat orang tua hingga tutup usia.

Bagi saya, tanggung jawab orang tua adalah merawat hingga anak sudah dapat mandiri dalam arti sudah bisa hidup tanpa kontrol sepenuhnya dari orang tua disertai dengan Pendidikan yang baik dari segi “Spiritual & Sosial.

Saya pribadi, tidak pernah bercita-cita ingin bekerja keras dan menabung sebanyak mungkin agar kelak anak saya tidak perlu bersusah payah mencari nafkah dan membangun masa depannya. Mengapa? Saya sendiri begitu selesai menempuh pendidikan formal, tidak pernah lagi meminta dukungan dalam bentuk “Materiil” dari orang tua dan keluarga. Sebaliknya saya ingin bekerja keras dan mandiri dengan harapan dapat membuat orang tua saya bangga. Syukur-syukur saya bisa membalas budi orang-orang terdekat saya. Artinya bahwa, kita hidup di dunia ini bukan untuk meneruskan harta warisan yang kita miliki pada anak kandung, melainkan menjadikan mereka jadi orang yang berdampak positif bagi keluarga, lingkungan dan sesama. Kalau pada akhirnya orang tua ingin membagikan warisan pada anak-anaknya, hal itu merupakan hadiah atau bonus, bukan suatu keharusan dan kewajiban.

Kedua, bagaimana dengan tanggung jawab seorang anak pada orang tua.

Kembali lagi pada motivasi ingin punya anak untuk apa? Kebanyakan orang tua yang punya ekspektasi besar terhadap seorang anak pada akhirnya justru membuat mereka sakit hati dan kecewa sendiri karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa anak bukanlah investasi pencetak uang atau kelak jadi satpam orang tuanya.

Setiap manusia memiliki sudut pandangnya. Akan tetapi jika seorang anak dibesarkan dengan pendidikan “Spiritual” dan “Sosial” yang baik, di bentuk dengan pola pikir yang maju & terbuka, otomatis seorang anak akan melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang manusia yang memiliki jiwa humanis bukan saja pada orang tua atau keluarga namun juga pada sesama manusia. Ini merupakan kesadaran terpenting bagi para orang tua & anak yang juga kelak akan menjadi orang tua bagi anak-anaknya.

Ingat, anak bukanlah “Objek” melainkan “Subjek”. Ia memiliki pikirannya sendiri yang tidak dapat di atur sepenuhnya berdasarkan keinginan orang lain. Anak adalah “Subjek” yang memiliki hak-haknya sebagai seorang anak pada umumnya baik dari segi Hukum maupun dari segi Agama.

#StopDiskriminasiTerhadapKaumPerempuan
#StopDiskriminasiDalamKeluarga
#StopKekerasanFisikDanVerbalPadaPerempuan
#StopDiskriminasiGender

29 September 2021
Akhirmawati Zendratö

Aktivis dan Penggiat Sosial Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *