Misteri Kematian Ternak Babi di Pulau Nias Terungkap?

Opini, Madilog.id – Mayoritas orang Nias yang tinggal dikampung pasti memelihara ternak babi. Ternak babi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam urusan adat istiadat. Contohnya dalam upacara-upacara sakral seperti pernikahan dan kematian. Daging babi menjadi menu utama sebagai simbol penghargaan bagi para tamu terhormat dan undangan. Tidak dapat dipungkiri, bisnis ternak babi sangat menggiurkan bagi sebagian besar masyarakat Nias sebagai salah satu mata pencaharian utama, tidak terkecuali orang yang menetap di kota ikut memelihara ternak yang satu ini untuk diperjualbelikan dipusat-pusat perbelanjaan umum.

Satu tahun yang lalu, tiba-tiba ternak babi di pulau Nias mati secara serentak, banyak peternak dalam jumlah besar mengaku rugi akibat kejadian itu. Dampak nya masih terasa hingga saat ini, daging babi harganya naik berlipat dari harga sebelumnya bahkan setara dengan harga daging sapi disebabkan karena faktor daging babi yang langka dan harus pesan dari luar pulau Nias. Sungguh hal ini telah membawa duka disetiap hati mereka yang mengadakan pesta, dimana daging babi tidak dapat disuguhi diatas meja-meja tamu sebagai tanda penghormatan.

Kebiasaan suku Nias dalam menjamu seluruh tamu undangan (kecuali tamu nonkristen), dengan menu utama adalah daging babi berubah dratis mejadi daging ayam yang dihidangkan diatas nampan sebagai pengganti “simbi” daging khusus yang telah dipersiapkan untuk tamu terhormat. Hal ini menjadi pemandangan yang cukup lucu buat saya, karena saya sadar betul betapa pentingnya seekor babi dalam acara-acara besar di pulau Nias, namun tiba-tiba menjadi berubah 180° akibat ternak babi yang sudah mati secara serentak di pulau Nias.

Rasa penasaran pun menghampiri, beberapa keluarga yang berada di Nias saya hubungi untuk menggali informasi terkait kematian ternak babi diwaktu yang bersamaan. Fix saya mendapatkan informasi yang menurut saya amat penting, salah satu relasi saya bercerita bahwa ada 1 keluarga di desanya yang mengaku bahwa ternak babi nya sehat semua dan tidak ada yang mati seekor pun. Hal ini membuat semua orang yang mendengar heran dan penasaran, demikian kata relasi saya. Saya pun bertanya, boleh tau makanan yang disuguhi untuk ternak babi selama ini apa saja? Apakah ada dedak yang biasa orang beli di toko-toko? Ia mengaku, sejak dahulu mereka tidak pernah memberi makan ternak babi dari dedak yang dibeli dari pasar, mereka memelihara ternak babi dengan makanan alami seperti daun ubi, batang pisang yang masih muda, buah pisah, kelapa dan umbi-umbian, demikian relasi saya menjelaskan.

Saudara-saudaraku yang berada di Pulau Nias, kalian pernah kah mencari tau penyebab kematian babi di Pulau Nias secara serentak atau diwaktu yang bersamaan? Lalu bagaimana dan sejauh mana pula pemerintah mengusut tuntas kejadian langka ini? Sudah kah pemerintah setempat melakukan investigasi? Sudah kah pihak dinas peternakan melakukan tugas nya dengan baik? Sejauh mana tindakan pemerintah dalam melakukan investigasi dan bagaimana pula hasil riset nya. Lalu seperti apa peran DPRD (wakil rakyat) menanggapi kejadian ini? Sudah kah DPRD melaksanakan tugas nya sebagai pendamping rakyat, penyambung lidah rakyat atau pura-pura tidak tau derita rakyat?

Harus kita akui, pernyataan Gubernur Sumatera utara untuk memusnahkan babi di wilayah nya sebelum kasus kematian babi massal di pulau Nias juga menjadi kontroversi pada saat itu, meskipun kemudian Gubernur Sumatera Utara memberikan klarifikasi atas pernyataan nya tersebut, namun tetap saja menjadi bahan pertanyaan di hati masyarakat dimana seperti yang kita ketahui, tidak ada seorang pun Gubernur sebelum nya berani mengeluarkan pernyataan yang begitu sensitif dan kontroversi bagi sebagian suku. Belum lagi saat ini, sosial media di hebohkan dengan berita simpang siur tentang pelarangan penjualan daging babi di pusat-pusat kuliner kota Gunungsitoli. Tentu saja kita harus sabar dan menahan diri untuk menanggapi berita tsb sampai adanya klarifikasi tegas dari pihak Walikota sehingga jelas betul duduk persoalannya demi menghindari opini-opini liar di tengah-tengah masyarakat.

Tidak bermaksud beropini liar, tapi informasi yang saya dapatkan seharusnya cukup menguatkan, bahwa ada sesuatu yang tidak beres apakah itu disengaja atau tidak. Silahkan berpikir sendiri dengan akal sehat anda. Rata-rata orang Nias memberi makan ternaknya dari dedak yang dibeli dari pasar, tetapi 1 keluarga telah menyelamatkan ternak nya dengan tidak memberi makan dedak yang dibeli dari toko makanan ternak.

Pemerintah loyo?

Nias tetap lah Nias, kita tidak akan bisa merubah adat istiadat daerah tertentu dengan cara kita, kalau pun hal itu terjadi pasti akan ada pertumpahan darah. Inti nya kita harus bisa menyesuaikan diri di manapun tinggal, kita tidak boleh memaksakan orang lain untuk ikut adat atau budaya kita. Yang terpenting berpatokan pada norma-norma yang berlaku dan saling mengharagai perbedaan, tidak ada yang merasa paling menonjol dan tidak ada pula yang merasa terdiskriminasi. Hargai dan cintailah perbedaan, karena perbedaan yang menjadikan kita indah. Bayangkan saja bila Tuhan menciptakan manusia muka nya sama, hati nya sama, pikiran nya sama, semua hal sama, bukan kah kehidupan tidak ada seni nya lagi? Kalau tidak ingin jadi manusia yang bertoleransi, jadilah kambing saja dijamin muka nya sama persis dengan kambing yang lain bahkan sifatnya juga sama, karakter dan kebiasaan nya sama. Tidak ada sifat intoleransi diantara para kambing, karena Tuhan menciptakan mereka sama tanpa perbedaan.

Apabila ingin jadi makhluk Tuhan yang paling mulia, maka hargailah karya Tuhan yang telah menciptakan kita beda, jika wajah kita sama semua seperti kambing bukan kah jadi bingung hari ini kawin dengan siapa besok dengan yang lain karena rupa nya sama.

Manusia di ciptakan Tuhan begitu unik, jangan merubah nya lagi. Tapi pelihara lah dengan damai dan penuh kasih, jangan merusak tatanan hidup yang telah Tuhan buat demikian indah, penuh seni dan sungguh sempurna.

Penulis : Akhirmawati Zendrato / Umbu Channel
Penggiat Sosial Media Asal Nias

3 thoughts on “Misteri Kematian Ternak Babi di Pulau Nias Terungkap?

  1. Adat Dan Istiadat Yg Dari Leluhur Kita Sudah Menjadi Tradisi,Maka Tidak Segampang Membalikkan Telapak Tangan Untuk Merubahnya Dan Oleh Siapa Pun.Di Sebuah Peribahasa Yg Tidak Asing Lg Yg Pernah Kita Dengar Adalah,Di Mana Bumi Di Pijak,Di Situ Langit Di Junjung.Kebiasaan Dan Adat Khas Ono Niha,Harus Kita Pertahankan Bersama.

  2. Perlu investigasi lebih jauh…tetapi menurut saya bisa saja terjadi karna indikasi sentimen lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.