GERBANG KULIAH: Inovasi Kesehatan Lingkungan Demi Mewujudkan Kecamatan Gunungpati Semarang Bebas Sampah Tahun 2020

Masalah sampah selalu jadi dilema. Termasuk jumlah sampah yang ada di Kota Semarang. Bahkan menurut data, jumlah sampah dalam sehari bisa mencapai 1.400 ton. Sebuah solusi coba diberikan dengan tujuan dapat mengurangi jumlah sampah tersebut.

Jumat siang (29/3), kami mendengarkan persentasi mas Saiful Bahri, A.Md dari Puskesmas Gunungpati,  salah satu peserta yang ikut berpartisipasi dalam rangka pengenalan program inovasi dari tenaga kesehatan (nakes) teladan Kota Semarang.

Kegiatan ini sendiri dilaksanakan di rumah makan sederhana yang berada di jalan Pandanaran Semarang. Ruang lingkupnya lebih tentang sanitasi, sebuah usaha kesehatan yang menitikberatkan kegiatan kepada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia. Terutama fokus pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunung Pati.

Jumlah sampah Semarang yang mengkhawatirkan

Sebelum bicara tentang inovasi yang disampaikan, kami tertarik dengan jumlah data sampah Kota Semarang yang begitu besar.

Dari data yang kami ambil dari slide persentasi, jumlah penduduk Kota Semarang yang mencapai 1,8 juta rupanya membawa sampah sekitar 1,4 ton dalam sehari. Membayangkan dalam sebulan itu mengerikan sekali tentunya.

Dengan data tersebut, tentu semua pihak harus berkolaborasi memecahkan masalah. Mas Saiful Bahri adalah salah satu orang yang mencoba mengatasinya dengan cara, setidaknya dapat mengurangi jumlahnya. Pasti sulit sekali menyelesaikan sampah.

Mengambil lokasi 11 kelurahan yang merupakan wilayah binaan UPTD Puskesmas Gunungpati, inovasi ini dilakukan. Konsentrasi masalah yang diangkat adalah sampah rumah tangga.

Sampah rumah tangga sendiri terdiri dari sampah organik yang mudah terurai seperti sisa sayuran, sampah dapur dan sampah non organik yang sulit terurai seperti plastik, botol, kaleng dan lainnya.

Cara pengelolaan sampah yang dianggap kurang baik, seperti contoh yang diambil dari data bahwa kebanyakan sampah dibakar ternyata memberi kontribusi dalam terjadinya perubahan iklim.

GERBANG KULIAH

GERBANG KULIAH ini bukan artinya pintu masuk sebuah perguruan tinggi, melainkan sebuah Inovasi yang memiliki singkatan ‘Gerakan tidak Buang Air Besar Sembarangan dan Komunitas Peduli Sampah‘.

Inovasi ini dihadirkan untuk mewujudkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya di wilayah kerja UPTD Puskesma Gunungpati dengan harapan Kelurahan Bebas Sampah di Tahun 2020.

Dalam inovasi ini, konsentrasi permasalahan mengambil 4 pilar STMB (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang totalnya ada 5 pilar dengan fokus pada pengelolaan sampah rumah tangga.

5 pilar STMB seperti berikut ini :

  1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS)
  2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CPTS)
  3. Pengamanan Air Minum Rumah Tangga
  4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
  5. Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga
Lalu, apa saja yang dibawa dalam inovasi Gerbang Kuliah?  Ada 3 yang dimasukkan, berikut ini :
  1. Gerakan 1 Kelurahan 1 bank Sampah
  2. Wirausaha Sanitasi Tong Komposter
  3. Pendataan melalui aplikasi SIKEMPLING (Sistem Informasi Kesehatan Masyarakat dan Penyehatan Lingkungan). Aplikasi ini adalah aplikasi Dinas Kesehatan Kota Semarang mengenai 5 pilar STMB.
Waktu yang digunakan dalam penggunaan inovasi ini dilakukan dari tahun 2017 dan akan berakhir pada tahun 2020.

Gerakan 1 Kelurahan 1 bank Sampah diharapkan dapat mengurangi sampah yang ada di wilayahnya 1,1 ton perminggu. Dalam membentuk 1 Kelurahan 1 bank Sampah, dilakukan beberapa tahapan seperti

  1. Sosialisasi bank sampah
  2. Membentuk pengelola bank sampah
  3. Melatih pengelola
  4. Menyiapkan kelengkapan
  5. Mencari pembeli sampah (rosok/pengepul)
  6. Promosi berdirinya bank sampah
  7. Tabungan sampah
  8. Melakukan Monev (monitorong evaluasi)
Wirausaha sanitasi tong komposter

Ini paling menarik. Komposter yang merupakan sebuah metode pengolahan sampah organik menjadi kompos yang kemudian bisa digunakan sebagai pupuk dibuat sendiri oleh mas Bahri dengan mengemas tong yang sudah jadi lalu dimodifikasi.

Tong Komposter sudah dibuat sebanyak 39 buah dan didistribusikan ke konsumen sejak tahun 2018 sampah dengan Februari 2019. Bahkan sekarang, permintaan komposter buatannya banyak diminati masyarakat hingga di luar kota.

Metode pembuatan komposter ini berhasil menurunkan angka jumlah sampah dalam seminggu yang berada di daerah Puskesmas Gunung Pati yang memiliki segmen 11 kelurahan. sekitar 3, 85 ton perminggunya.

Dengan inovasi ini wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunungpati Semarang mengalami pengurangan jumlah sampah (organik dan anorganik) sebanyak 4,95 ton dalam seminggu.

Bisa dibayangkan bila inovasi ini diterapkan diberbagai wilayah di Kota Semarang. Jumlah sampah Kota Semarang dapat berkurang drastis.

Kami percaya apa yang dilakukan dengan niat baik, akan membuahkan kebaikan lain, meski itu sulit. Kuliah (Komunitas Peduli Sampah) yang menjadi sebuah inovasi sebagai upaya untuk kesehatan lingkungan yang ada di UPTD Puskesmas Gunung Pati pasti akan berhasil mewujudkan impian tersebut.

Kecamatan yang bebas sampah di tahun 2020. Sehingga terwujudnya Kelurahan STMB lewat Kampung bersih sehat berbasi KULIAH.

Tertarik dengan inovasi kesehatan ini? Hubungi mas Saiful di Instagram @ipungkrwng

Artikel terkait :
  • Semarang Smart Health ?
  • Dinas Kesehatan Kota Semarang Ajak Komunitas Diskusi Sore di Kafe
  • Temu Blogger Kedua; Dinas Kesehatan Kota Semarang Ajak Bloger dan Media ke Magelang
  • Si Cepat, Layanan Mobil Ambulance Gratis di Semarang
  • Lewat Temu Bloger, Dinas Kesehatan Kota Semarang Sosialisasi Program Kesehatan
  • Lainnya
Informasi Kerjasama
Hubungi lewat email dotsemarang@gmail.com
Atau klik DI SINI untuk detail lebih lengkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *