Jika Proses Demokrasi di Nias Utara Berjalan Baik, Niscaya Akan Melahirkan Pemimpin Yang Tangguh

“Yang kita saksikan sekarang ini adalah kelucuan demi kelucuan menjadi tampak di permukaan, akal sehat semakin dipertaruhkan, opini publik makin tidak menemukan titik temu yang jelas, hoaks ada di mana-mana, dan ujaran-ujaran kebencian semakin subur”.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Nias Utara yang akan diselenggarakan pada tahun 2020 mendatang, sosial media terkhusus Nias Utara semakin ramai, forum-forum serasa sesak dengan diskusi politik dan tak ketinggalan warung kopi semua berdialektika tentang menyongsong Pesta Demokrasi di Nias Utara 2020.

Memang patut disyukuri di era reformasi ini dengan adanya sistem Pemilihan langsung, sehingga rakyat bisa memberikan hak suaranya secara bebas. Namun berdasarkan pengalaman pada pemilu -pemilu sebelumnya, sistem Demokrasi Nias Utara dalam memilih calon Kepala Daerah, masih banyak yang mengutamakan popularitas kandidat bukan kualitasnya. Hal ini disampaikan oleh salah seorang Pemuda Milenial dari Nias Utara, yang juga Sekretaris Umum Gerakan Muda Ono Niha (GEMONI), Yaman Gea kepada madilog.id.

“Memang dalam setiap pesta demokratisasi yang terjadi di kabupaten Nias utara, rata-rata masyarakat kita masih melihat kandidat berdasarkan popularitas dan bukan dilihat dari kualitas, situasi tersebut pada akhirnya belum tentu bisa menghasilkan pemimpin yang sesuai kebutuhan Nias Utara dari periode ke periode.” ucap Yaman.

Fenomena ini sebenarnya sangat berbahaya untuk kemajuan Demokrasi di Nias Utara. Masyarakat tidak lagi memperhatikan visi-misi calon pemimpin sebagai barometer baik-buruk, layak-tidaknya pemimpin. Kini, Masyarakat lebih banyak memilih berdasarkan sentimen-sentimen sektarianisme, golongan, kampanye akun palsu, maupun urusan kepentingan individu. Menurut Aktivis dengan nama lengkap Niatman Gea tersebut, keadaan ini tidak bisa terlepas dari peran para “pengusaha politik” yaitu orang-orang yang memproduksi Hoax maupun ujaran kebencian di masyarakat. Tetapi secara leadership dan latar belakang pengalaman maupun keilmuan belum tentu layak menjadi Kepala Daerah di Nias Utara, Ucap Yaman.

“Yang kita saksikan sekarang ini adalah kelucuan demi kelucuan menjadi tampak di permukaan, akal sehat semakin dipertaruhkan, opini publik makin tidak menemukan titik temu yang jelas, hoaks ada di mana-mana, dan ujaran-ujaran kebencian semakin semakin subur. Maka dampaknya kepada Masyarakat yaitu semakin rusaknya tatanan pergaulan politik pada level Masyarakat menengah ke bawah yang kurang memiliki akses pada informasi-informasi akurat dan valid. Sebagian akan mudah termakan berita hoax, menyebarkan dan mejadikan hoax – hoax tersebut sebagai sebuah kebenaran.

Yang dikhawatirkan kemudian adalah: proses demokrasi yang tidak sehat, hanya menciptakan ketidakharmonisan pada level pendukung, politik kotor akan terhalalkan, dan juga hasilnya hanya akan melahirkan pemimpin yang tidak berkualitas untuk Nias Utara”. Ujar Yaman. Oleh Karena itu saya berharap semoga pada Pesta  Demokrasi Nias Utara 2020 mendatang, para calon yang hendak bertarung lebih banyak memunculkan ide dan gagasan, mendorong pendidikan politik yang baik, bertarung pada level visi misi. Tim sukses yang ada agar lebih mengedepankan promosi visi misi kandidat, jangan berkampanye dengan menyebarkan berita hoax, jangan menyerang pribadi lawan, hindari menggunakan akun-akun palsu, menyerang pribadi lawan, apalagi mengandalkan Politik Uang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *