Sekolah Gratis Nyatanya “Tidak Gratis”

Penulis : Akhirmawati Zendrato / @Umbu_Channel
(Penggiat Sosial Media Asal Nias)

Opini, Madilog.Id – Belum lama ini saya menulis tentang “KEKERASAN” yang sering terjadi tengah-tengah keluarga atau pun di lingkungan tempat tinggal kita. Dalam tulisan saya dijelaskan salah satu langkah tepat dalam memutus rantai tindakan pelaku kekerasan adalah dengan buka suara, dan bercerita pada orang yang tepat atau bisa dipercaya agar mendapatkan perlindungan dan memberi dukungan. Dapat dibaca melalui media:

Faktanya Perempuan Tidak Berani ‘Speak Up’
Mengapa perempuan harus berani speak up tentang kekerasan di masa lalu? Begini nich…
Mengapa Perempuan Harus Berani Speak Up Tentang Kekerasan Di Masa Lalu? Begini Nich…

Keesokan hari nya terjadi lagi kasus kekerasan akibat salah tangkap kepada salah satu warga Tangerang kebetulan suku Nias dapat dibaca melalui Salah Tangkap ; Perlakuan Kasar Oknum Mengaku Polisi Terhadap Seorang Warga Nias. Tidak cukup sampai disitu, tanggal 01 Juni 2021 media sosial dihebohkan dengan berita kejahatan seksual yang terjadi di salah satu sekolah gratis dan ternama di Kota Batu. Betapa tidak, korban dan terduga pelaku kejahatan memiliki hubungan yang begitu dekat, yakni antara pendiri sekolah dan murid-murid nya. Sudah tidak heran lagi bahwa pelaku kejahatan biasa nya justru berada dilingkungan paling dekat dengan korban, sangat dekat dengan korban dan mungkin saja ada disekitar kita saat ini. Mereka muncul dalam rupa domba yang tidak bersalah, padahal sesungguh nya mereka bagaikan singa yang mengaung-ngaung yang tidak akan berhenti sampai mendapatkan mangsa nya.

Berita tentang “KEKERASAN” tentu bukan lagi berita langka di jaman sekarang ini, ada saja informasi nya nyaris setiap menit atau jam muncul lewat beranda Facebook, Twitter, Instagram dan melalui media online lainnya. Setiap hari kita disuguhi tentang berita “KEKERASAN” apakah itu kekerasan dalam rumah tangga, perkelahian antar kelompok atau perorangan, penembakan, perampokan, kekerasan seksual dan lain sebagainya. Hari ini saya ikut menanggapi kasus yang baru saja terjadi di salah satu sekolah SMA kota Batu. Betapa tidak korbannya puluhan orang dan kejadian ini sudah berlangsung sejak lama

Saya pribadi menyayangkan kejadian ini justru muncul dari salah satu sekolah ternama dan berbasis pendidikan “GRATIS” dimana pemiliknya juga sering diundang ke acara-acara Televisi dan tidak sedikit mendapatkan reward dari berbagai acara. Sungguh sangat disesali, akibat kurangnya edukasi dan pendampingan dari orang tua sehingga anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban kebiadaban oknum-oknum tertentu, bahkan tidak jarang dari mereka para pelaku kekerasan seksual khusus nya, justru muncul dari kalangan orang-orang terhormat, mereka justru adalah orang-orang terdekat, orang terpandang dan tidak jarang mereka muncul sebagai sosok yang begitu mencintai sesama, begitu mengenal kebenaran namun dalam tindakan nya sungguh berbanding terbalik dengan yang tampak di mata orang dan tidak sesuai dengan ekspektasi para pengagum nya.

Sesungguh nya mereka adalah iblis yang telah menjelma dalam rupa manusia, dan harus diberi hukuman seberat-berat nya, karena mereka melakukan nya atas kesadaran bukan karena ketidaktahuan atas kebenaran. Dalam tulisan saya sebelum nya, saya menerangkan salah satu langkah tepat untuk memutus rantai tindakan pelaku kekerasan baik kekerasan Fisik maupun Verbal adalah dengan cara bicara pada orang yang dapat dipercaya.

Dengan berdiam diri besar kemungkinan hal serupa akan terjadi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Dalam hal ini peran keluarga terutama ibu justru sangat penting dalam keselamatan dan pertumbuhan seorang anak. Anak-anak harus diberikan edukasi yang tepat, jelaskan dengan sangat baik agar mudah dimengerti oleh sang anak bagian tubuh mana yang hanya boleh di sentuh oleh seorang ibu, apabila ada orang lain yang berani menyentuh nya selain ibu, harus bercerita pada ibu karena orang itu pasti memiliki niat jahat!!!. Sebagai seorang ibu harus membangun rasa percaya antara anak dan ibu, sehingga anak tidak akan segan bilamana merasa terganggu oleh perlakuan orang lain, maka dengan mudah seorang anak akan menceritakan nya pada ibu nya.

Anak-anak yang tidak punya hubungan emosional dengan orang tua apakah di latarbelakangi oleh didikan yang salah, didikan yang begitu keras dan tidak manusiawi pasti tidak akan berani terbuka pada orang tua tentang apa yang ia alami, itu sebab nya orang tua harus membangun kepercayaan antara anak dan orang tua, karena resiko terburuk nya tidak sedikit anak-anak remaja melakukan aksi bunuh diri oleh karena kurang nya penerimaan dilingkungan nya, dan tidak ada orang yang bisa dipercaya untuk mendengar keluh kesah nya.

Orang tua harus menanamkan rasa optimisme di hati sang anak, apabila merasa terancam dan terganggu oleh kejahatan orang lain jangan segan untuk melawan atau melaporkan nya pada orang yang dipercayai, tujuan nya untuk memutus rantai tindakan kejahatan baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Seorang korban kekerasan dalam bentuk apa pun tidak perlu merasa takut atau malu untuk bicara, karena anda hanyalah korban, bukan pelaku kejahatan.

Perjuangkan hak anda sampai titik darah penghabisan, tempuh jalur hukum yang berlaku sampai pelaku mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatan nya. Dengan begitu kasus kekerasan akan semakin berkurang di muka bumi ini, semakin banyak orang yang berani buka suara semakin sedikit kesempatan bagi para pelaku kejahatan untuk melakukan aksi nya.Sayangi diri anda dan sayangi orang lain, jangan sampai hal serupa menimpa anda, teman anda, keluarga anda atau anak anda. Bekali mereka dengan pengetahuan yang cukup dan bangun rasa kepercayaan antara anak dan orang tua, sehingga mereka dapat bertumbuh sebagaimana mesti nya. Red/Madilog.Id

One thought on “Sekolah Gratis Nyatanya “Tidak Gratis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.