Saatnya Kepulauan Nias Bangun Dari Tidur Panjang; Bersatu Lawan Kemiskinan

Penulis : Akhirmawati Zendrato / Umbu Channel
Penggiat
Social Media dari Kepulauan Nias.

Opini, Madilog.id – Ini merupakan tulisan saya yang kesekian kalinya berkaitan dengan fenomena yang terjadi di Kepulauan Nias akhir-akhir ini. Sebelumnya saya menyoroti tentang dimensi keagamaan dalam pusaran diskusi “dakwah dan nikah massal”, dan pada tulisan ini merupakan sambungan yang tidak terpisahkan dari tulisan sebelumnya tetapi lebih menitikberatkan pada aspek pembangunan ekonomi dan keluar dari Kemiskinan di Kepulauan Nias. Selamat membaca.

Baca Tulisan Lain Saya:

Program fenomenal “Nikah Massal” yang ditargetkan akan dilaksanakan di daerah Nias selatan oleh seorang Ustad dalam wawancara nya melalui salah satu “Channel YouTube” gempar, sontak menimbulkan polemik berkepanjangan di dunia maya dan dunia nyata.

Tidak sedikit netizen bereaksi menyampaikan unek-uneknya berdasarkan pemahaman dan cara pandang nya masing-masing melalui grup-grup sosial media. Ada yang menyampaikan dengan lisan yang cukup santun, ada pula yang menyampaikan nya dengan sangat kasar dan arogan sehingga memberikan kesan tidak baik bagi siapa pun pembaca nya. Serangan yang membabi buta akibat nafsu netizen dalam berkomentar bisa saja menimbulkan masalah baru dan melukai hati pihak lain yang tidak bersalah. Banyak netizen menyimak dan menyimpulkan sebuah berita hanya melalui judul tanpa ada nya rasa ingin tau kebenaran informasi tersebut. Seharus nya sebagai netizen yang kritis, sebelum memberikan komentar ada baiknya membaca suatu berita dan nonton video secara utuh, agar komentar nya tidak lari dari isi berita.

Kebiasaan netizen dalam menanggapi informasi “Komen Dulu Baru Baca” atau “Salah Dulu Baru Minta Maaf”, sudah sering terjadi dalam berbagai kasus. Umumnya mereka adalah orang-orang yang gemar bermain di sosial media dan senang mendebatkan hal-hal tidak guna. Mereka juga malas membaca atau  kuotanya sedang pas-pasan sehingga tidak dapat membuka link berita. Akibat nya menyimpulkan sebuah judul berita dengan nafsu yang menggebu-gebu karena hasrat amarah nya yang meluap-luap sudah tidak bisa tertahankan. Tidak sedikit komentar mereka justru menimbulkan amarah, kebencian, dendam dan juga memicu persoalan baru yang bisa saja terjadi di tempat lain.

Dalam menyampaikan sebuah aspirasi dan opini, seharus nya sesuai dengan ajaran budaya kita yang santun dan juga sesuai dengan keteladanan yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus, dimana gambaran Allah tercermin lewat ucapan dan tindakan kita terhadap sesama.

Masyarakat Nias bagaikan bangun dari tidur panjang selama ini. Berbagai argumen, pendapat, ide, saran dan motivasi di sampaikan secara intens baik melalui sosial media maupun lewat audiensi yang dilakukan beberapa tokoh agama, sekali pun kita belum mendengar pernyataan sikap nya seperti apa atas fenomena yang terjadi ini.

Kehadiran sang Ustad dalam video “Program Nikah Massal” di Nias selatan, menurut pengakuannya didasari atas rasa keprihatinan melihat kemiskinan yang ada di daerah tersebut. Video wawancara nya di unggah melalui channel youtube “Annaba. TV” dan disaksikan puluhan ribu mata.

Berita fenomenal ini sungguh telah menyatukan masyarakat Nias baik lewat dunia maya maupun lewat dunia nyata. Tujuannya ada yang menjurus ke hal negatif ada pula yang menjurus ke hal positif. Hal positifnya, kita mendadak peduli dengan saudara kita di Nias selatan, yang sebelum nya mungkin tidak pernah memberikan perhatian, baik dari segi Pendidikan, Ekonomi, Spritualitas dan lain sebagainya. Negatifnya kita tidak dapat menyampaikan aspirasi kita dengan baik dan benar sehingga kata-kata yang diutarakan lewat status dan perdebatan panjang di sosial media justru menimbulkan luka di hati banyak pihak  yang bisa saja dapat memicu timbulnya masalah baru. Hal ini tentu menjadi tugas kita bersama, terlebih tokoh-tokoh penting di kepulauan Nias, agar segera menghentikan kegaduhan ini.

Pemerintah dan Tokoh yang disebutkan dalam video tsb sudah seharusnya memberikan penjelasan dan klarifikasi atas kebenarannya sehingga tidak simpang siur dan menimbulkan opini liar di tengah-tengah masyarakat. Warga Nias perlu tahu seperti apa bentuk pendekatan yang dilakukan oleh sang Ustad sehingga tokoh adat yang dimaksud oleh Narasumber dalam video tersebut dengan mudah memberikan persetujuan.

Perlu diketahui apakah Tokoh adat setempat sudah melakukan Musyawarah dengan penduduk dan tokoh-tokoh lainnya dengan mempertimbangkan banyak hal seperti kearifan lokal, budaya, adat dan agama, sebelum akhirnya memberikan persetujuan “Program Nikah Massal” oleh agama  yang berbeda, dengan embel-embel menikah secara Islam. Adanya klarifikasi dan penjelasan dari pihak terkait tentu akan meredam berbagai asumsi publik. Mestinya Pemerintah dan tokoh-tokoh lainnya memberikan surat panggilan undangan kepada pihak penyelenggara program “Nikah Massal” Untuk melakukan audiensi tentang maksud dan rencana nya dalam menikahkan suku Nias secara massal dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Tujuan mulia sang Ustad patut kita ancungin jempol. Buat saya siapa pun orang yang membawa misi kemanusiaan dan mulia patut dihargai dan dihormati. Tidak terkecuali buat  agama lain seperti Budha, Hindu, Kristen, Katolik. Akan tetapi bagaimana mereka mengeksekusi suatu program tentu harus sesuai undang-undang yang berlaku, sesuai adat istiadat warga setempat, atau sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Siapa pun berhak menerima dan menolak sebuah tawaran, karena hak dan kebebasan nya dijamin oleh undang-undang. Tentu hal ini berlaku ketika agama Kristen memasuki wilayah agama Budha misalnya, tidak boleh ada pelarangan misi kemanusiaan, namun masyarakat  berhak untuk menerima sebuah tawaran dan berhak pula untuk menolak nya sesuai iman dan kepercayaan yang di anut nya.

1 hal yang saya tidak bisa terima adalah ketika  seseorang atau sebuah komunitas membawa misi “Kemanusiaan” namun memiliki tujuan terselubung, atau syarat yang harus dipatuhi dan ditaati. Bukankah berbuat baik tidak ada syaratnya? Sama hal nya ketika orang Kristen melaksanakan amanat agung Tuhan Yesus ke seluruh penjuru bumi, harusnya tidak ada masalah bukan? Karena tidak ada unsur pemaksaan untuk masuk agama Kristen, mewartakan silahkan saja, namun memaksakan jangan!!!

Walaupun demikian, seperti yang kita ketahui missionaris tetap saja mengalami penolakan dari pihak-pihak yang mengaku mayoritas, sehingga tidak jarang kita dengar berita, imbasnya hamba Tuhan diancam dibunuh, rumah ibadah dibakar, minoritas dipaksa pergi meninggalkan rumahnya, di bom, dimasukan kedalam penjara tanpa rasa adil dan berbagai tindakan anarkis lainnya dialami oleh mereka pembawa misi mulia ini, padahal tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap siapa pun dalam mewartakan Injil dan kebenaran. Percaya silahkan, tidak percaya biarkan Roh Kudus yang bekerja disetiap hati masing-masing orang.

Kasus-kasus anarkis terhadap kaum yang dianggap minoritas hingga saat ini belum mendapatkan keadilan di mata hukum. Harapan kita sebagai masyarakat yang cinta damai, Pemerintah menjadi solusi tepat dalam memberikan jalan keluar, perlindungan dan keadilan bagi mereka yang terdiskriminasi, teraniaya, terabaikan dan kebebasan nya terjajah oleh kepentingan dan arogansi  oknum-oknum tertentu.

Berdasarkan berita fenomenal dan kontroversi ini, masyarakat Nias bagai dibangunkan dari tidur panjang nya. Saya pribadi merasa bersyukur, dengan adanya program “Nikah Massal” oleh sang Ustad, semua pihak menjadi sibuk memberikan argumen, opini, ide, saran dan gagasan nya lewat media sosial demi untuk Nias lebih maju dalam Pendidikan, Ekonomi, Budaya, Sosial dan Spritualitas yang perlu ditingkatkan. Berita ini seharusnya jadi pukulan berat bagi pihak-pihak terkait, agar meningkatkan kualitas pelayanannya dalam segala aspek, sehingga suku Nias semakin dikenal, dihargai dan diakui dalam banyak hal. Editor : Irama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.