Gisel, Rupa Ayu dan Jebakan Hedonisme

Gisel
Gisel & Gading

Oleh: Dikson Ringo *)

Siapa yang tidak kenal Gisel Anastasia, perempuan muda berbakat, suara merdu dan rupa nan ayu. Karirnya melejit dari biduanita menjadi selebritis yang dikagumi, sikap bak putri ayu dan rupa yang molek.

Saat pernikahaannya berakhir dengan Gading Martin, khalayak tak percaya, merasa mustahil. Karena mereka tampak sebagai pasangan ideal, tak mungkin bercerai hingga ketok palu sidang pengadilan membatalkan pernikahan yang diteguhkan oleh pendeta.

Tapi sikap Gading Martin yang menangis menyesali diri bahwa perceraian itu terjadi karena kesalahannya, sontak melahirkan tanya. Seolah Gading Martin turut berperan. Kebenaran menemukan caranya menunjukkan diri. Gading Martin menjadi viral dan terjawablah sebab perceraiannya.

Gading Martin menyesal tak mampu memimpin dan merawat hubungannya dengan Gisel, karena kesibukan masing-masing dan dijebak oleh hedonisme yang menuntut gaya hidup diatas manusia waras alias sewajarnya.

Hedonisme itu dari Bahasa Yunani hedonismos dari kata hedone, artinya “kesenangan”. Pandangan yang menganggap kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Sesuatu yang dianggap hal terbaik bagi dirinya.

Gisel, merasa populer dan dipuj-puji kaumnnya, kendali diri dan kewarasannya (Kesadaran) melemah dan terbuai dengan perilaku tanpa etika. Pergaulan yang menyenangkan, membuatnya kehilangan kontrol sosial, abai terhadap kendali pasangan dan keluarga, termasuk abai kalau bercinta selain dengan Gading Martin adalah kesalahan fatal.Biasanya pelaku hedon (Penganut hedonisme) cuek terhadap standar nilai atau etika sosial bahkan merasa paling benar selama mendapat puja-puji dan kenikmatan hidup.

Biasanya pelaku hedon akan berakhir kacau karena terlambat mengalami kesadaran mental. Orang kaya atau mampu hidup mewah bukan termasuk penganut hedonisme.

Gisel kini akan bertarung batin, mampu mengakui secara terbuka atas tindakan amoralnya yang dibongkar aparat hukum atau berdiam diri pasrah tanpa upaya. Sebab amoralitas hanya mampu diperbaiki dengan tanggungjawab. Sikap itu yang akan memulihkan wajah moleknya bak putri ayu kembali.

Mengakui salah dan meminta perlindungan dan kembali ke pelukan Gading Martin bisa jadi solusi. Secara sosial dan hukum, pernikahan kembali dengan Gading Martin akan mampu mensiasati proses hukum yang akan dihadapinya. Celah ini akan memperkuat posisi hukum Gisel Anastasia.

Gading Martin akan menjadi pelindung bagi kesalahan yang pernah dilakukan Gisel, istrinya. Dan pelaku pria bisa diproses hukum terpisah atau kasus video syur tersebut batal dengan sendirinya karena Gading Martin lah sebagai pihak yang dirugikan.

Bila Gisel sepakat, Gading Martin bisa meminta pembatalan keputusan pengadilan perceraiaanya atau meneguhkan kembali perkawinannya dengan pendeta yang sama, tentu dengan pengakuan agar proses gerejawi mudah dan cepat dilakukan. Karena manusia makhluk lemah berdosa tapi bisa bertobat.

Bila Gisel mau dinikahi Gading Martin kembali, maka publik akan menemukan kembali pasangan ideal yang mampu pulih dan bangkit dari keterpurukan dan kehancuran. Sebab amoralitas atau perilaku tidak bermoral hanya mampu diobati dan dipulihkan dengan sikap tanggung jawab.

*) Pemerhati Fenomena Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.