Basis Miskin Di Basis Gereja

Oleh: Dikson Ringo *)

Tahun 2020 Bappenas RI mengeluarkan data propinsi dan kabupaten basis kemiskinan di Indonesia. Data itu menggambarkan bahwa sebagian besar berada di basis kekristenan dan ironisnya di daerah tersebut pasti ada organisasi (Sinode) Gereja.

Awalnya tak menyangka tapi ternyata data itu menunjukkan sepertinya kekristenan adalah penyebab kemiskinan di daerah itu. Kekristenan bukan lagi pemacu kemajuan peradaban seperti di Eropa, Benua Amerika dan di Korea Selatan belakangan ini.

Kemiskinan berada di mayoritas basis kekristenan, seolah menunjukkan doktrin gereja (Teologia kristen) atau peran lembaga/organisasi (Sinode) gereja tidak lagi berdampak, terjebak pada rutinitas. Panggilan pelayanan seperti yang Yesus lakukan tidak lagi dihayati dan dikerjakan, tidak ada lagi semangat pembaruan.

Banyak kisah terungkap dari momen Sidang/Rapat Sinode (Sinodal) sarat dengan politik kekuasaan, merebut jabatan pimpinan gereja dengan transaksional. Politik pragmatis telah menyusup dan menjadi habit baru dalam pergantian kepemimpinan organisasi gereja, maka lenyaplah semangat pelayanan membarui, memajukan.

Situasi itu diperparah karena ada pula aktor eksternal dan politik partai memainkan peran bila Sidang/Rapat Sinode mendekati agenda Pemilu Nasional (Pilpres dan Pileg) atau Pilkada di daerahnya masing-masing. Alhasil, kepemimpinan sinode tidak lagi mengabdi melayani umat tapi mengabdi pada aktor politik kekuasaan.

Kini, sedang berlangsung Rapat Majelis Pekerja Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja – Gereja di Indonesia (MPL PGI), 25 – 26 Januari 2021 di Jakarta yang tugasnya merumuskan program dan kebijakan yang dilaksanakan secara “hybrid” yakni sebagian di tempat (on site) dan selebihnya secara daring (online).

Kali ini Sidang MPL PGI mengusung tema “Spiritualitas Keugaharian” dan subtema “Memperkuat Semangat Kebangsaan, Mengadaptasi Pola Hidup Baru di Tengah Pandemi”. Pengamatan dan interaksi diskusi, teologia/spritualitas keugaharian masih belum dipahami Pimpinan Sinode Gereja dan belum tampak hingga tataran operasional.

Sejauh upaya yang ada, komunitas Salemba 10 hanya memahami gerakan keugaharian sebatas sikap dan upaya anti sampah plastik (No plastic) khususnya sampah plastik air mineral dan anti rokok. Hal lainnya baru sebatas mendorong gagasan ekonomi berbasis komunitas jemaat gereja, dinamai “Oikonomics”.

Konsep “Oikonomics” masih dalam awal pergerakan, masih butuh dukungan untuk menyiapkan pasar virtual (market place) yang harus ditopang kesiapan perangkat digital (Server, internet cepat, dll). Tapi dukungan kelembangan (Sinode) Gereja lebih vital untuk mengagregasi. Pasar virtual tidak akan berguna kalau tidak ada barang dan jasa yang diperdagangkan.

Sebab tidak semua Pimpinan Sinode Gereja akan mudah memberikan dukungannya. Pimpinan (Sinode) Gereja belakangan ini semakin malas memberi dukungan finansial bagi PGI melalui “iuran anggota”. Menurut mereka konsolidasi dan pergerakan PGI tidak menjawab kebutuhan dan memberi dampak signifikan bagi Gereja-Gereja. Itulah pergumulan PGI.

Sebelumnya, ditempat lain diselenggarakan Sidang Pleno I Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) 2020 – 2022 di Wisma Kinasih, 22 – 24 Januari 2021, bertemakan “Lihatlah Kristus Menjadikan Semuanya Baru” dan mengusung subtema “Memperbarui Persaudaraan, Meningkatkan Kepedulian dan Merengkuh Mereka Yang Rapuh Dalam Upaya Menciptakan Bumi (Indonesia) Yang Baru.

Ketua Umum GMKI Jefri Gultom mengusung gagasan “Akselerasi GMKI di Era Networking Society”, merespon revolusi industri 5.0 yang secara sosiologis disebut sebagai masyarakat berjejaring (digital) dan disampaikam saat serah terima jabatan dalam pidato perdananya. Pembuktian gagasan akan dinanti dalam 100 hari atau 1 tahun pertama.

Organisasi terbesar kristen (PGI dan GMKI) mendapat tantangan serius. GMKI dianggap besar dan berpengaruh karena telah berdiri 9 Pebruari 1950, peleburan dari CSV op Java (1932) dan PMKI (1945), pengaruh dan jaringan senior-seniornya merata di semua basis Gereja dan semua sektor (Profesi). Sementara PGI berdiri 25 Mei 1950, tidak bisa dipungkiri pendiriannya turut diinisiasi Senior GMKI.

Kini 2 organisasi kristen tersebut dinanti untuk membuktikan perannya melalui program yang sudah diputuskan, mengoperasionalkan gagasan spiritualitas keugaharian hingga di basis jemaat melalui jaringan PGI ke Sinode Gereja hingga basis jemaat. Dan gagasan “Akselerasi GMKI di Era Networking Society” melalui jaringan GMKI.

Semua kebijakan dan program yang sudah diputuskan harus mampu menjawab tantangan realitas di basis gereja, khususnya kemiskinan. Akankah kemiskinan dapat dientaskan dari basis gereja ataukah kesederhanaan hidup yang dipraktekkan Yesus memang dihayati sebagai kemiskinan itu sendiri?

Akhirnya, selamat bagi “Duo Gultom” yang memimpin organisasi kristen terbesar di Indonesia. Tuhan pasti punya rencana mengijinkan mereka berdua memimpin agar ada perubahan nyata dan pembaruan bagi basis gereja. Tentu kita tidak berharap sebaliknya karena sejarah akan mencatatnya. Pro ecclesia et in futuro.

*) Pemerhati Kekuasaan/Jabatan, Opini menyambut Sidang MPL PGI 2021 dan Sidang Pleno I PP GMKI 2020 – 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.