Sosok Daniel Otak JAD Dibalik Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, merupakan jaringan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Hal tersebut diungkapkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat meninjau lokasi kejadian bersama Panglima TNI Hadi Tjahjanto di Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujungpandang, Kota Makassar Minggu malam.

Menurutnya Kapolri, 2 orang pelaku bom bunuh diri ini berkaitan dengan 19 teroris JAD yang ditangkap di Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

“Pelaku ini merupakan jaringan JAD (berkaitan) dengan 19 anggota JAD yang ditangkap kemarin,” kata Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Sosok Saefullah alias Daniel Alias Chaniago

JAD ini sendiri adalah organisasi yang berafiliasi ke ISIS. Di balik organisasi ini ada seorang yang menjadi dalangnya. Mabes Polri mengungkapkan kalau masih mengejar terduga teroris bernama Saefullah alias Daniel Alias Chaniago. Dia pernah menjadi penjaga perpustakaan Ponpes Ibnu Mas’ud itu bahkan masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Saefullah juga disebut sebagai orang yang mengatur perjalanan Muhammad Aulia beserta 11 orang Indonesia lain yang berencana berangkat ke Khorasan Afganistan. Untungnya mereka dideportasi dari Bangkok dan kemudian ditangkap Densus 88 di Bandara Kualanamu, Medan.

Mabes Polri mengatakan kalau Saefullah ini mastermind kelompok JAD di Indonesia. Terindikasi Daniel ini pun mendapatkan aliran dana dari luar negeri guna melakukan aksi terorisme. Sebagaimana Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo juga mengungkapkan kalau Saefu ah mendapatkan aliran dana dari 12 oknum berbeda yang juga ditranfer dari 5 negara berbeda.

“Saudara Saeful ini menerima beberapa aliran dana, ini aliran dana dari negara Trinidad Tobago ada tujuh kali, dari Maldives ada satu kali, Venezuela satu kali, Jerman dua kali dan Malaysia sekali,” ujar Dedi, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2019), dikutip dari tribunnews.com. Ia juga menyebutkan kalau Saefullah tercatat mulai mendapatkan aliran dana dalam kurun waktu maret 2016 hingga September 2017.

Berdasarkan penyelidikan kepolisian, adapun dana yang terkumpul $ 28.921.89 atau Rp 413.169.857 yang ditransfer melalui Western Union. “Seluruhnya terkumpul Rp413.169.857,-. Mereka menggunakan sistem aliran dana western union,” ucapnya.

Berikut nama oknum yang mengirimkan aliran dana kepada Saefulah sejakt penyelidikan Kepolisian dari Tahun 2017  :
1.Yahya Abdul Karim dari Trinidad & Tobago (4 kali);
2. Fawaaz Ali dari Trinidad & Tobago;
3. Keberina Deonarine dari Trinidad & Tobago;
4. Ahmed Afrah dari Maldives;
5. Ricky Mohammed dari Trinidad & Tobago (2 kali);
6. Ian Marvin Bailey dari Trinidad & Tobago;
7. Pedro Manuel Morales Mendoza dari Venezuela;
8. Mehboob Suliman dari Jerman;
9. Simouh Ilyas dari Jerman;
10. Muslih Ali dari Maldives;
11. Furkan Cinar dari Trinidad & Tobago;
12. Jonius Ondie Jahali dari Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.