Politik Moral Nias : “Sokhi Mate, Moroi Aila”

Penulis : Edizaro Lase (Aktivis Muda Nias)

Mencermati perilaku masyarakat pasca pilpres dan pileg cenderung melek politik, sadar demokrasi dan menolak politik uang. Hal ini merupakan pertanda baik bagi masyarakat itu sendiri dalam rangka mewujudkan tatanan politik yang beradab, beretika dan berintegritas.

Dulu, jika seseorang ingin terjun ke dunia politik dan ingin menjadi calon legislatif hingga kepala daerah maka tidak sedikit modal kapital uang yang harus dikeluarkan untuk membiayai tim sukses, alat peraga kampanya seperti kaos, baliho, spanduk, flyer, dll dan hal itu sangat menguras dan membebani sang kandidat. Tidak dipungkiri diakhir pertarunganpun tidak sedikit kandidat calon yang menanggung utang yang sangat besar baik calon yang menang maupun calon yang kalah bahkan tidak sedikit yang mengalami gangguan jiwa.

Apa hubungannya dengan ungkapan “sokhi mate, moroi aila?” Ungkapan ini merupakan ungkapan filosifis Suku Nias di era perjuangan dalam hal mempertahankan keluhuran nama baik, kesucian perjuangan, dan benteng pertahanan dari serangan musuh atau lawan. Jika Suku Nias berperang melawan musuh pada saat itu lebih baik memilih mati dari pada malu dan kalah di medan perang.

Ungkapan ini juga diperkuat dengan bukti sejarah dimana Suku Nias merupakan salah satu Suku pada saat itu sangat sulit ditaklukkan oleh bangsa penjajah atau kolonial.

Semoga ungkapan “sokhi mate, moroi aila” ini juga menjadi roh dan pelecut semangat masyarakat khususnya generasi milenial dalam mendukung politik partispatif, proaktif dan progersif dalam rangka menghadirkan sosok pemimpin yang memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak.

Pada tahun 2020 akan segera dilaksanakan pemilihan Calon Kepala Daerah Sekepulauan Nias khusunya Kab. Nias Utara agar masyarakat jeli, teliti dan peduli sosok dan jejak rakam Cakada yang hendak diusung. Jika salah memilih maka akan berakibat buruk dan fatal lima tahun ke depan. Lupakan sejarah kelam masa lalu dimana masyarakat dirancuni oleh stigma negatif “kho niha mbanua zimamaokho, khoma zilima fakhe.”

Saatnya masyarakat secara kolektif membangun kembali perspektif kesadaran bahwa “lebih baik mati dari pada malu” memilih calon kepala daerah yang tidak produktif bekerja dan miskin prestasi.

Mencermati perilaku masyarakat pasca pilpres dan pileg cenderung melek politik, sadar demokrasi dan menolak politik uang. Hal ini merupakan pertanda baik bagi masyarakat itu sendiri dalam rangka mewujudkan tatanan politik yang beradab, beretika dan berintegritas.

Dulu, jika seseorang ingin terjun ke dunia politik dan ingin menjadi calon legislatif hingga kepala daerah maka tidak sedikit modal kapital uang yang harus dikeluarkan untuk membiayai tim sukses, alat peraga kampanya seperti kaos, baliho, spanduk, flyer, dll dan hal itu sangat menguras dan membebani sang kandidat. Tidak dipungkiri diakhir pertarunganpun tidak sedikit kandidat calon yang menanggung utang yang sangat besar baik calon yang menang maupun calon yang kalah bahkan tidak sedikit yang mengalami gangguan jiwa.

Apa hubungannya dengan ungkapan “sokhi aila, moroi mate?” Ungkapan ini merupakan ungkapan filosifis Suku Nias di era perjuangan dalam hal mempertahankan keluhuran nama baik, kesucian perjuangan, dan benteng pertahanan dari serangan musah atau lawan. Jika Suku Nias berperang melawan musuh pada saat itu lebih baik memilih mati dari pada malu dan kalah di medan perang.

Ungkapan ini juga diperkuat dengan bukti sejarah dimana Suku Nias merupaka salah satu Suku pada saat itu sangat susah ditaklukkan oleh bangsa penjajah atau kolonial.

Semoga ungkapan “sokhi mate, moroi aila” ini juga menjadi roh dan pelecut semangat masyarakat khususnya generasi milenial dalam mendukung politik partispatif, proaktif dan progersif dalam rangka menghadirkan sosok pemimpin yang memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak.

Pada tahun 2020 akan segera dilaksanakan pemilihan Calon Kepala Daerah Sekepulauan Nias khusunya Kab. Nias Utara agar masyarakat jeli, teliti dan peduli sosok dan jejak rakam Cakada yang hendak diusung. Jika salah memilih maka akan berakibat buruk dan fatal lima tahun kedepan. Lupakan sejarah kelam masa lalu dimana masyarakat dirancuni oleh stigma negatif “kho niha mbanua zimamaokho, khoma zilima fakhe.”

Saatnya masyarakat secara kolektif membangun kembali perspektif bahwa “lebih baik mati dari pada malu” memilih calon kepala daerah yang tidak produktif bekerja dan miskin prestasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *