Salah Tangkap ; Perlakuan Kasar Oknum Mengaku Polisi Terhadap Seorang Warga Nias

Foto Korban dengan luka yang disebabkan oleh salah tangkap oknum yang mengaku Polisi

Jakarta, Madilog.id – Telah terjadi salah tangkap terhadap seorang warga Nias bernama Nestor Charisman Lase, dilakukan oleh beberapa oknum berpakaian preman yang mengaku sebagai Polisi Pemburu Pengedar Narkoba di Jalan Daan Mogot / Batu Ceper – Tangerang, Jumat, 28 Mei 2021, Sekitar pukul 15.15 WIB.

Atas kejadian tersebut, Nestor Lase yang merupakan korban salah tangkap yang juga berprofesi sehari-hari sebagai hamba Tuhan (Pendeta) mengalami luka di bagian kepala. Nestor kemudian mengaku sangat menyesalkan sikap arogansi dan cara-cara kasar apalagi salah tangkap yang dilakukan oleh oknum yang mengaku sebagai Pihak Kepolisian tersebut, sehingga mengakibatkan luka dikepala dan trauma berat secara psikologi kepada korban maupun juga kepada keluarga.

Meskipun Nestor sudah memaafkan perlakuan kasar tersebut, dia selanjutnya berharap agar hal yang sama jangan terulang lagi dan biar menjadi pelajaran kepada pembaca bahwa suatu saat bisa saja perlakuan tersebut terjadi kepada siapapun.

Berikut adalah cerita lengkap yang dikirimkan oleh Nestor Lase kepada madilog.id berkaitan dengan kejadian tersebut.

===================================
Tempat Kejadian : Jalan Daan Mogot / Batu Ceper – Tangerang.
Kejadiannya pada hari Jumat, 28 Mei 2021, Sekitar Pk. 15.15 WIB.

Saya Nestor Charisman Lase, Korban salah tangkap dari oknum yang mengaku sebagai polisi yang sedang memburu pengedar Narkoba.

Ketika saya pulang ke rumah, motor saya didekati oleh 2 orang yang mengaku sebagai polisi. Posisi saya sedang berhenti di pinggir jalan, untuk memberitahukan kepada istri saya kalau saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

Awalnya saya tidak merasa takut karena saya pikir mereka mau bertanya alamat atau arah jalan. Namun ternyata, mereka mengambil kunci motor saya dan menyuruh saya turun dari motor dengan paksa, lalu membawa saya ke pinggir jalan dan memaksa saya duduk di tanah. Bahkan mereka meminta saya duduk dengan posisi kaki terlentang tapi saya tidak mau karena saya meraca terancam dan dalam bahaya. Mereka memegang tangan saya, menginterogasi saya lalu menyuruh saya dengan paksa mengeluarkan obat (Narkoba).

Jujur, rasa takut menyelimuti saya saat itu sebab saya diperlakukan seperti penjahat. Bahkan saya langsung berpikir bahwa mereka adalah penjahat, atau begal, atau rampok atau polisi gadungan yang mau menjebak saya. Saya tidak berpikir untuk menanyakan status mereka atau surat tugas atau mengambil foto sebagai bukti di TKP atay melihat atribut mereka sebab saya sedang dalam ketakutan. Itu juga sebabnya kenapa saya keukeuh tidak mau membuka tas saya ketika mereka meminta membuka tas, sebab saya berpikir jangan – jangan saya mau dijebak lalu dijadikan tersangka, dan akhirnya dijebloskan ke penjara. Saat itu saya benar – benar sangat takut dan sangat takut.

Saya berteriak minta tolong ke orang – orang disana tapi tidak ada satupun yang mau menolong. Saya memaklumi hal itu, mungkin mereka juga takut. Tapi yang membuat saya makin sedih karena disana ada seorang tentara yang melihat. Saya meminta bantuan tentara tersebut sambil menangis tapi beliau hanya mengatakan : “sudah, serahkan saja barang yang kamu bawa”.

Saya terus berusaha meyakinkan mereka bahwa saya bukan pengedar narkoba. Saya pun menjelaskan status saya sebagai Pelayan Tuhan di gereja dan di sebuah Yayasan. Saya juga mengatakan bahwa tidak mungkin saya menjadi pengedar Narkoba karena saya sendiri berperang melawan Narkoba melalui kegiatan yang saya lakukan terkait pencegahan terhadap Narkoba. Tapi mereka tidak percaya. Bahkan ketika saya berteriak minta tolong, salah seorang dari mereka berkata silahkan teriak saja. Yang satu lagi menyuruh saya diam.

Karena saya berteriak sekencang – kencangnya sambil menangis meminta pertolongan, salah seorang dari mereka memukul kepala saya dengan Borgol. Itu rasanya sangat sangat sakit.

Disaat itu saya sudah menyerah. Saya menyerah dengan hidup saya. Saya berpikir bahwa mereka akan terus memukul saya atau menjebak saya atau merampok saya. Dan saya membayangkan diri saya akan berada dalam penjara atau menghadapi kematian atau saya dibegal dan cacat seumur hidup. Saya menyerah karena tidak ada yang bisa menolong saya.

Yang saya pikirkan saat itu hanya ingin menyelamatkan diri saya. Saya harus bebas dari tangan mereka. Melihat saya menangis setelah dipukul, pelan – pelan mereka melepaskan tangan saya dan meng-lap luka di kepala saya bekas dipukul dengan borgol. Disitu saya menyadari bahwa kepala saya terluka.

Saya terus meminta belas kasihan agar mereka melepaskan saya sambil berdoa dalam hati agar Tuhan menolong saya. Berulang – ulang saya berteriak memanggil nama Tuhan. Lalu mereka membawa saya ke sebuah gubuk tempat penjual bunga karena kata mereka jangan sampai banyak orang melihat dan orang yang mereka buru melihat kejadian ini.

Sesampai di gubuk tersebut, ternyata beberapa orang teman mereka ada disana dan saya yakin mereka mendengar ketika saya meminta pertolongan namun mereka diam saja.

Mungkin karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan, mereka minta maaf dan berinisiatif membawa saya ke rumah sakit sambil meminta maaf. Tapi saya menolak. Yang saya pikirkan adalah keselamatan saya. Saya harus bebas dari mereka dan pergi dari tempat itu.

Setelah mereka melepaskan tangan saya, seorang dari mereka menjelaskan bahwa selama 2 hari ini mereka sedang melacak pengedar narkoba yang sedang bersembunyi di daerah itu. Menurut mereka, tempat saya berhenti itu adalah tempat janjian pengedar narkoba yang mereka cari untuk transaksi barang. Mereka menangkap saya karena saya berhenti di tempat itu, motor saya dan ciri – ciri pengedar narkobanya sama dengan motor yang saya pakai dan sama seperti saya.

Memang benar saya mengatakan bahwa saya sudah memaafkan mereka. Tapi yang saya sesali adalah : Jika mereka Polisi, mengapa mereka yang bisa salah tangkap orang dan main pukul, apalagi memukul kepala saya dengan borgol?

Banyak orang, sahabat, teman, keluarga yang meminta saya untuk melaporkan ke pihak kepolisian. Namun jujur, saya masih merasa sangat takut. Saya takut dengan polisi, saya takut berhadapan dengan polisi dan hukum, saya takut kasus ini berbalik kepada saya. Saya hanya ceritakan hal ini kepada seorang yang saya sudah anggap sebagai orangtua, yang kebetulan bekerja di Kepolisian.

Itulah sebabnya saya menulis melalui media sosial supaya banyak orang berhati – hati saat sedang dalam perjalanan dan tidak mengalami peristiwa seperti yang saya alami. Saya juga berharap hal ini bisa sampai ke pihak kepolisian agar mereka benar – benar memberi perhatian pada kasus seperti ini dan menemukan orang yang mengaku sebagai polisi yang memperlakukan saya seperti ini lalu memberi bimbingan kepada mereka.

Kondisi kepala saya saat ini masih sakit dan sedikit bengkak. Saya mengobati diri saya sendiri dengan cara saya menggunakan betadine. Lebih baik di rumah dari pada terjadi hal seperti ini lagi ke saya. Ketakutan dan trauma yang saya alami membuat saya tidak berani bercerita kepada banyak orang atau melapor ke pihak kepolisian.

Saya hanya berharap ada orang – orang baik yang membantu saya meneruskan tulisan saya ini kepada semua orang sebagai bentuk keprihatinan kepada keselamatan banyak masyarakat agar mereka selalu berjaga – jaga saat dalam perjalanan dan agar pihak kepolisian (karena mengaku sebagai polisi) lebih bijak dan berhikmat dalam melaksanakan tugas mereka.

Bila ada yang bertanya, apakah benar mereka salah tangkap atau tidak ? Sebelum saya pulang, mereka sendiri yang bilang bahwa bukan saya orang yang mereka cari. Tapi orangnya masih ada disekitar itu. Mereka melihat dari dan melacak melalui HP dipegang oleh salah seorang teman mereka. Saya sempat melihat seorang buka map dan berkata : “target mereka masih ada di sekitar sini”.

PESAN KEPADA PEMBACA

Pesan saya kepada semua orang : Jangan takut ketika anda benar.
Jangan pernah lupa memanggil nama Tuhan ketika menghadapi apapun atau siapapun. Jangan takut meminta pertolongan kepada orang lain sekalipun dilarang untuk diam atau tisak ada yang peduli dengan anda. Usahakan melindungi diri anda supaya anda pun tidak menjadi korban walau anda benar. Lebih dari itu, Tuhan lah yang menjadi penjaga kita. Saya yakin bisa lepas dari tangan orang – orang ini karena pertolongan Tuhan.

Dan bila pun tulisan ini sampai kepada orang yang sudah memperlakukan saya seperti ini, pesan saya : “Bila anda benar sebagai Polisi, maka dengarlah.. Kegagahan seorang Polisi bukan dipakaian yang anda pakai, bukan diatribut yang anda pakai, bukan pula diperlengkapan yang anda gunakan tapi dari integritas hidup dan cara anda melayani sebagai seorang Polisi yang benar. kalau anda benar Polisi, maka bijaklah saat bertugas. Singkirkan borgol anda bila itu menyakiti orang lain. Jangan main hakim sendiri. Perbuatan anda bisa merusak nama baik polisi Indonesia dan juga berdampak pada karir dan masa depan diri anda atau keluarga anda. Saya memaafkan anda namun bekas luka karena borgol anda membekas di kepala saya, ini tidak akan hilang dan akan saya bawa sampai mati”. Saya memberi pesan ini karena mereka berkata dari Kepolisian.

Saya menceritakan pengalaman berharga ini dengan jujur dan apa adanya.

Salam.
Tangerang, 29 Mei 2021
Nestor Charisman Lase
HP : 0822-9968-8884

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.