Katakan Amin dalam Paradigma Literasi vs Hoax

(Foto/Nusantaranews)

Oleh Silvester Detianus Gea*

Katakan “amin” supaya masuk surga, meskipun belum baca kebenaran tulisan yang dibagikan. Tindakan semacam ini salah satu indikasi bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki sikap kritis terhadap berita yang diperolehnya. Tentu juga indikasi minimnya minat baca, sehingga mudah mengaminkan berita hoax yang berisi provokasi.

Memang berkata ‘amin’ saja bisa masuk surga. Tetapi surga kebohongan karena isi berita adalah Hoax. Sampai kapan masyarakat terus menelan mentah-mentah berita” konyol semacam itu.

‘Amin’ berarti setuju, percaya akan sesuatu. Maka mengatakan amin terhadap berita hoax adalah membenarkan bahwa itu benar. Benar-benar sesat dan butuh pencerdasan nalar.

Namun,  bagaimana caranya?

Di sinilah pendidikan literasi menjadi penting dan bermakna. Siapa saja yang tercerahkan secara literasi akan memiliki kecerdasan bawaan untuk bertindak “duc in altum”,  masuk lebih jauh ke dalam dan menebarkan jala perspektif dalam menangkap sejuta makna di balik pesan yang terkadang tersaji liar di bawah permukaan. Pendidikan literasi seperti inilah yang diajarkan Yesus Kristus kepada para murid-Nya yang sebagian besar nelayan biasa dan tulus. Dengan memiliki daya dan metode literasi seperti ini,  pewartaan dan misi-Nya bertahan sepanjang segala abad.

Betapa tidak, ppendidikan literasi harus mengakar sampai pada kesadaran pribadi akan paradigma yang dipakai untuk membaca dan menafsir kenyataan,  baik yang terungkap nyata maupun yang tersingkap dalam kata-kata yang tersirat.  Inilah langkah yang perlu untuk mencicipi sajian,  baik yang benar maupun yang hoax.

*Penulis adalah Wartawan KOMODOPOS.COM dan penulis buku ‘Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias (2018).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.