Jadi Jubir Baru COVID-19, Begini Dokter Reisa Broto Asmoro di Mata Nitizen

Foto : Dokter Raisa – Jubir Baru COVID-19

Jakarta, Madilog.id – Warganet menyambut hangat kemunculan sosok Dokter Reisa yang dianggap sebagai bagian dari politik komunikasi Presiden Jokowi. Banyak yang mendukung Puteri Indonesia Lingkungan 2010 itu bergabung menjadi juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19. Reisa selama ini dikenal sebagai dokter, alumnus ajang kecantikan, model, dan presenter televisi. Sebagai dokter, Reisa sempat menekuni dunia forensik. Ia pernah bergabung sebagai anggota Disaster Victim Identification yang terlibat dalam proses investigasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi dan korban aksi terorisme di Jakarta.

Salah seorang penggiat sosial media yang dikenal dengan nama akun facebook nya Birgaldo Sinaga menceritakan bagaiamana pandangan dan pengalaman serta pengamatan tentang sosok yang heboh akhir-akhir ini yaitu Dokter Reisa. Menurut Birgado dalam akun Facebooknya Dokter Reisa merupakan sosok yang cantik dan berkarakter dan berempati pada Kemanusiaan. Dia sosok yang tetap mengisi kecemasan kita pada saat pandemi Covid 19 karena jiwa dan kebaikannya berpihak pada kemanusiaan. Berikut screenshoot salah satu sudut pandang Birgaldo di akun facebooknya tersebut :

Nitizen lain yang merupakan pemerhati Sosial Media, Vokus Harefa saat dikonfirmasi melalui media komunikasi selulernya menyampaikan pandangan yang berbeda dari Birgaldo tersebut. Menurut Vokus Harefa, kemunculan Dokter Raisa bisa dianggap sebagai wujud kreativitas team pakar komunikasi di lingkungan istana, tepatnya Bapak Jokowi. “memilih sosok seperti Dokter Reisa, memiliki konsekwensinya tersendiri yaitu ibarat mata uang dua sisi. Sisi positifnya adalah dianggap sebagai simbol komunikasi yang damai, penyemangat dan juga tentu didukung oleh latar belakangnya sebagai Dokter. Hal ini pastinya sangat berpotensi meningkatkan energi dan sentimen positif di tengah-tengah Masyarakat yang penuh kecemasan menghadapi Covid 19.”

Akan tetapi, lanjut Vokus: Sisi lain adanya kemungkinan muncul anggapan eksploitasi gender dan keceantikan tertentu. Ekspolitasi dalam hal ini sama saja dengan merekrut seorang SPG atau perempuan cantik (good looking) untuk mengisi pameran, menjual rokok. Mengapa perempuan dan harus good looking karena secara ilmu marketing dianggap lebih berpotensi menjual, jelas Vokus.

Namun demikian, waktu yang akan membuktikan bahwa Dokter Reisa bukanlah hanya sekedar good looking atau sebagai bahan ekspoloitasi jenis kelamin yang cantik tertentu, tetapi karena kualitas dan keteladanan. Kita tunggu hasil karya dan kinerja Dokter Reisa. Selamat Berjuang Dokter Reisa! Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *