HOAX, Berita Tanpa Mahkota

(Foto/Pixabay).

Oleh: Silvester Detianus Gea*

Akhir-akhir ini kita mendengar berita yang begitu heboh,  yakni tentang sekelompok orang penyebar berita-berita Hoax. Ada sebagian orang dari kelompok penyebar hoax telah ditangkap oleh polisi. Mereka memiliki kelompok yang terstruktur dan teratur dengan tujuan menyebarkan berita-berita palsu nan menyesatkan, yang dikenal dengan hoax.

Mereka menyebarkan berita-berita hoax melalui media Facebook, Twitter, WhatsApp, Website, dan lain sebagainya.

Berita-berita hoax yang beredar akhir-akhir ini acapkali mengenai pemerintah, terutama pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi. Mereka menulis berita-berita hoax, disertai “sumber-sumber” yang mereka edit sedemikian rupa, sehingga seolah-olah benar.  Mereka sebarkan melalui media sosial dan umumnya tidak terlepas dari isu-isu SARA.

Tentu berita-berita hoax yang mereka sebarkan mempunyai dampak negatif bagi masyarakat.

Ada beberapa dampak yang ditimbulkan oleh berita hoax, antara lain cuci otak (brainwash). Cuci otak (brainwash) melalui berita hoax tersebut menimbulkan konflik, kegelisahan, curiga, dan kekacauan di tengah masyarakat. Masyarakat yang telah tercuci otaknya akan sulit untuk menerima berita yang benar.

Kita tentu sangat prihatin terhadap situasi yang sedang terjadi saat ini. Banyak masyarakat mudah percaya berita-berita hoax, sehingga ikut membagikannya di dalam media sosial yang mereka miliki. Semakin kesesatan beredar luas dan massif,  berita sejenis ini menjadi seolah-olah benar dan inilah yang berbahaya,  menjadi virus dalam kebenaran.

Menurut Laras Sekarasih, Ph.D, Dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia yang dilansir dari http://nasional.kompas.com, ada dua faktor yang menyebabkan seseorang mudah percaya berita hoax.

Pertama, orang lebih cenderung percaya berita hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misalnya, seseorang tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya, maka ia mudah percaya. Sebaliknya, seseorang yang terlalu suka terhadap kelompok, produk, dan kebijakan tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, maka keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terlebih dahulu menjadi berkurang.

Kedua, terbatasnya pengetahuan (prior knowledge) tentang informasi yang diterima, sehingga bisa mempengaruhi seseorang untuk mudah percaya. Sebaliknya, orang yang mempunyai pengetahuan yang baik atas informasi akan bersikap kritis dan tidak mudah percaya, sebelum mendapat sumber terpercaya.

Adalah tugas kita bersama untuk memberikan pendidikan melalui berita-berita yang benar kepada masyarakat. Kita tidak bisa membiarkan masyarakat percaya pada berita-berita hoax. Berita-berita tersebut dapat mencuci otak (brainwash) secara perlahan-lahan.

Masyarakat perlu diberikan dorongan untuk bersikap kritis dalam memilah-milah berita, sehingga menjadi cerdas dan tidak mudah dihasut. Masyarakat perlu diberikan sumber-sumber untuk dijadikan acuan dalam memperoleh berita yang benar. Lebih dari itu, penyelia berita harus bekerja profesional, menyajikan berita yang berbasis data dan fakta dimana kebenaran (verum),  keindahan (pulchrum) dan kebaikan (bonum) menjadi mahkota jurnalistik.  Dengan demikian, masyarakat tidak mudah diombang-ambingkan oleh berita-berita hoax jika semua berita bermahkota.**

*Penulis adalah Wartawan KOMODOPOS.COM dan Penulis Buku ‘Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias (2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.