Akankah Debat Mempengaruhi Pilihan Pemilih?

Untuk terakhir kalinya tiga calon presiden yang akan bertarung di pemilu presiden 14 Februari nanti akan saling berhadapan dan beradu argumen di depan publik dan disiarkan oleh jaringan televisi dan radio nasional. Isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, kebudayaan, teknologi informasi serta kesejahteraan sosial dan inklusi menjadi topik debat sesi pamungkas ini.

Berbicara dalam konferensi pers Jumat (2/2) di kantor KPU, anggota KPU August Mellaz menjelaskan secara umum format dan teknis, debat kelima ini tidak berubah dari debat sebelumnya. Namun akan ada penambahan durasi pada sesi pernyataan penutup dari dua menit menjadi empat menit.

Penambahan durasi diusulkan oleh tim kampanye, yang ingin menyampaikan visi, misi dan program kerja untuk menyakinkan pemilih di saat-saat terakhir sebelum pemungutan suara. Ketiga kandidat dan KPU kemudian menyepakati usul itu.

Komisioner KPU August Melast memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Pemilu. (Foto: Courtesy/Bijak Memilih)

Komisioner KPU August Melast memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Pemilu. (Foto: Courtesy/Bijak Memilih)

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan KPU pasca empat kali debat yang ditayangkan sembilan televisi nasional, ada antusiasme publik yang sangat besar pada acara debat ini. August mengatakan ada 94 juta lebih penonton yang menyaksikan setiap debat acara debat.

“Dan harapannya tentu ini akan menjadikan tujuan kampanye melalui metode debat ini menjadi satu instrumen yang penting bagi pemilih untuk memastikan bahwa memang ini lah kualifikasi dari setiap pasangan calon, baik presiden maupun wakil presiden, yang diberikan ruang dalam pelaksanaan debat untuk memaparkan visi, misi, maupun programnya,” ungkapnya.

Debat Tidak Berdampak pada Pemilih

Peneliti dari Saiful Mujani and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai debat capres/cawapres seharusnya memiliki pengaruh terhadap pemilih. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Substansi debat yang tidak sampai ke publik menjadi persoalannya. Lembaganya, kata Saidiman, menemukan di dalam survei bahwa isu-isu yang diangkat oleh capres/cawapres umumnya tidak diketahui oleh publik.

Manajer program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, saat merilis hasil survei terkait pembubaran organisasi Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Selasa 6 April 2021. (Anugrah Andriansyah)

Manajer program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, saat merilis hasil survei terkait pembubaran organisasi Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Selasa 6 April 2021. (Anugrah Andriansyah)

Survei yang dilakukan lembaganya pada awal Desember terkait program-program apa saja yang diapresiasi atau dianggap baik oleh publik menunjukkan bahwa 40 hingga 50 persen publik menyatakan program satu keluarga satu sarjana, dan program perlindungan ibu dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dinilai bagus dan dibutuhkan masyarakat. Namun mereka tidak mengetahui program-program tersebut diusulkan oleh siapa.

“Tetapi ketika ditanya apakah mereka tahu bahwa program perlindungan ibu dari KDRT adalah program yang dikeluarkan Anies, itu di bawah 20 persen yang tahu itu program Anies. Atau program satu keluarga satu sarjana, itu diapresiasi 48 persen menyatakan itu program yang dibutuhkan publik. Tetapi ketika ditanya apakah mereka tahu itu program dari Ganjar? Hanya di bawah 20 persen yang menyatakan tahu itu program Ganjar, sehingga tampak (debat) tidak punya dampak pada akhirnya,” jelas Saidiman.

Dia menduga saat menonton debat, publik tidak memahami substansi isu yang dibahas.

Debat Pertama Capres 2024 yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum RI (KPU RI) menghadirkan ketiga calon presiden yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan pada Selasa (12/12) di Jakarta. (VOA/Indra Yoga)

Debat Pertama Capres 2024 yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum RI (KPU RI) menghadirkan ketiga calon presiden yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan pada Selasa (12/12) di Jakarta. (VOA/Indra Yoga)

Lebih jauh Saidiman menjelaskan bagaimana performa capres nomor urut dua, Prabowo Subianto, dalam debat-debat sebelumnya dinilai lemah; tetapi survei menunjukkan dukungan publik pada Prabowo tetap stabil, atau bahkan menguat. Itu artinya tidak ada pengaruh debat (pada elektabilitas) Prabowo,” ujarnya.

Kinerja Pemerintah Berdampak pada Pilihan Pemilih

Salah satu faktor yang cukup besar mempengaruhi pilihan pemilih saat ini adalah faktor kinerja pemerintah, dalam hal ini Jokowi. Survei terakhir menunjukan 83 persen warga merasa puas dengan kinerja Jokowi. Dalam teori ekonomi voting, kepuasan terhadap pemerintah ungkapnya mempunyai pengaruh di dalam preferensi pemilih.

“Pertengahan tahun 2022, yang dianggap sebagai representasi pemerintah adalah pak Ganjar Pranowo, yang saat itu suaranya paling tinggi. Tetapi kemudian persepsi publik bergeser karena melihat maneuver politik pak Jokowi terutama ketika Prabowo Subianto mengambil Gibran sebagai wakil. Itu menjadi tanda bagi publik bahwa pak Jokowi ada di pihak 02.Itu yang menyebabkan suaranya menjadi naik signifikan,” ujarnya.

Berdampak pada Pemilih yang Belum Menentukan Pilihan

Pengamat Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli proses debat capres-cawapres hanya akan memengaruhi pemilih yang belum menentukan pilihan dan pemilih mengambang atau swing voters yang jumlahnya tidak terlalu besar. Debat ini, lanjutnya, akan menentukan langkah selanjutnya bagi mereka.

“Besar pengaruhnya bagi mereka. Pilihannya ketika mereka akan tertarik dengan visi misi, program yang ditawarkan itu, dia akan memilih. Kalau ternyata tidak tertarik dia bisa golput. Pilihannya kan itu. Memilih atau golput,” ungkap Lili seraya menambahkan, bagi pemilih lokal maka debat hanya sekadar menjadi tontotan.

Meskipun demikian Lili menilai debat capres terakhir ini akan menarik perhatian lebih luas karena tema-tema yang diusung terkait pelayanan dasar bagi masyarakat.

Untuk debat terakhir ini, calon presiden nomor urut satu, Anies Baswedan, mengatakan telah mempersiapkan diri agar nanti bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang bakal ditujukan kepada dirinya. Namun yang jelas, tambahnya, ketika seorang kandidat capres atau cawapres masuk ke ruang debat, hal yang ditawarkan ke publik harus didasari pengalaman dan gagasan.

Hal yang sama juga diungkapkan Prabowo Subianto, capres nomor urut dua. Dia menyatakan siap menghadapi debat. Sementara Ganjar Pranowo, capres nomor urut tiga megatakan aspirasi yang didengarkan saat berkunjung maupun berdialog dengan masyarakat akan menjadi bahan dalam debat. [fw/em]

Ikuti Madilog.id di google News

Business Info
READ  Cawapres Diminta Serius Tunjukan Visi Misi, Bukan Hanya “Gimmick”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *